Bizzi en Taiyed.

by - February 19, 2016

source

Untuk : Survivor 2016
Dari : Sesama survivor

Hai!
Sudah lama sejak aku tidak menulis surat di sini. Ah, tidak juga. Hanya sebulan lewat sehari.

Kali ini aku akan sedikit bercerita tentang hari-hari yang sudah terlewat selama 2 bulan ini. Em, mungkin karena baru saja aku menyelesaikan sebuah novel yang sudah menyendiri selama berminggu-minggu karena pembacanya yang tak punya banyak waktu luang. Ya, beberapa minggu lalu, aku disibukkan dengan membaca puluhan presentasi yang bahkan aku takkan mengerti kalau hanya dibaca sendiri, pelajaran-pelajaran yang akhirnya berhasil kupahami, ketik mengetik yang meng-asyiq-an, dan hal yang cukup kuminati yaitu menulis cerpen. Itupun karena tugas ekskul, hehe. Jadi, kembali lagi ke novel yang akhirnya malam ini sudah kuhabiskan.

Novel itu mengisahkan seorang anak perempuan dengan sekelumit kehidupan sekolah dan kepribadiannya serta kedekatannya dengan orang tuanya. Well, aku mengira kalau novel ini hanya akan berakhir seperti novel yang kubaca sebelumnya. Tapi ternyata tidak. Novel ini benar-benar menyadarkanku bahwa, tak selamanya di dalam kotak nyamanmu akan membuatmu nyaman. Dan begitu keluar, bukan berarti kamu harus memakai 1001 topeng atau bahkan mengkloning dirimu dengan orang lain. Cukup menjadi dirimu sendiri dan sesuaikan dengan apa yang ada di luar kotakmu. Awalnya takkan pernah mudah. Pasti akan tersandung lalu putus asa, mengeluh dengan berjatuhan peluh, merasa sendiri di tengah ramai dan yang sedang kualami, memandang sebelah mata diriku sendiri dan terus memikirkan diriku sendiri.

Dalam novel itu, mungkin sifat dari pemeran utamanya lebih baik dari aku. Tapi bisa serupa tapi masih bisa ku cari relasinya. Intinya saja, dewasa itu bukan masalah umur atau seberapa lama kamu ada di suatu tempat. Tapi, dapat memaknai setiap yang kamu lewati. Dan biarkan rasa sesal, marah, dan takut beriringan dengan bahagia, tertawa lepas dan bebas. Tidak akan pernah tahu seperti apa itu dunia, kalau kamu sendiri tak menginjaknya, mengamatinya, merasakannya bahkan bersatu dengannya. Biar saja sekarang takut, meringkuk diri. Tapi, besok harus janji. Apapun itu hadapi saja. Akan lebih lega saat itu terlaksana. Kalau bukan saatnya, anggap saja jadi pengalaman buruk yang tak perlu diulang lagi.

Terimakasih, literasi sekolah. Ya, paling tidak untuk program ini tidak sia-sia. Dan tidak juga hanya buang-buang uang. Lanjutkan! TSAH.

From the deepest of my heart,



Nod.

You May Also Like

0 comments